Kesenjangan Pembangunan, Melemahkan Kesejahteraan Masyarakat

Posted in Uncategorised

Kesenjangan Pembangunan, Melemahkan Kesejahteraan Masyarakat

Sumber : http://fajaronline.co.id/read/40674/kesenjangan-pembangunan-melemahkan-kesejahteraan-masyarakat

 

Semboyan pembangunan telah terdengar sejak kita masih kecil. Pembangunan merupakan sebuah ungkapan yang memiliki maksud perbandingan terhadap dua kata "bergerak untuk maju" bagi setiap negara yang telah mencapai tahap pembangunan yang maksimal dengan berlandaskan pada akses teknologi canggih, begitu pun dengan istilah "mundur" memiliki maksud terhadap tahap pembangunan yang bersifat rendah dari berbagai aspek kehidupan.

OLEH: Ahmad Zaharuddin Sani Sabri
Guru Besar Universitas Utara Malaysia/ Direktur Institut Pemikiran Dr Mahathir (IPDM)

Perbandingan dua konsep "maju" & "mundur" dalam pencapaian pembangunan merupakan wujud dari "tinggi-rendahnya" hasrat manusia. Pembangunan juga sering dikaitkan dengan proses evolusi yaitu mendorong rancangan pembangunan yang bersifat akuntabilitas dan kredibilitas terhadap masyarakat. Apalagi pembangunan merupakan suatu kewajiban bagi pemerintah yang bersifat sensitif terhadap masyarakat. Dibuktikan dengan lahirnya pembangunan menjadi dasar bagi kemajuan dan stagnasi negara dalam memperbaiki hajat hidup masyarakat.

Pasca Perang Dunia Kedua, telah menciptakan perubahan tatanan dunia baru, banyak negara yang awalnya menjadi negara maju, seperti Jerman, Rusia, Italia, Prancis, Inggris, China, dan Jepang, menjadi hancur atas dampak dari perang dunia. Pecahnya Cold War 1947 ditandai dengan munculnya ketegangan politik dan militer di dunia barat. Dampak dari ketegangan tersebut melahirkan filosofi baru terhadap pembangunan dunia yaitu kapitalis (AS) dan Marxis-Komunis (Rusia).

Kedua konsep di atas memiliki maksud yang sama dalam menciptakan pembangunan dunia yang adil dan mereta demi mewujudkan masyarakat adil dan makmur seperti yang dicita-citakan oleh kaum kosmopolitan. Berkaca pada konsep pembangunan di pertengahan abat 20, lebih dikenal sebagai "Pax-Britanica". Hal tersebut terjadi karena Britain merupakan core of system sekaligus sebagai negara superpower pada saat itu.

Namun pasca perang dunia kedua dan perang dingin, pergeseran tatanan dunia semakin besar atas keberhasilan AS memenangkan perang dan mampu menggantikan posisi Inggris dan Rusia sebagai negara superpower.

Keberhasilan AS dalam promosi sistem dunia, dipengaruhi oleh doktrin master plan Harry S. Truman, yang menganggap bahwa pembangunan berawal dari keyakinan dan dapat diwujudkan dalam rancangan/planing, yang diolah secara ilmiah, dengan berbasis teknologi dan kemudian dirasionalkan melalui ilmu pengetahuan manusia.

Mengacuh pada konsep master plan Presiden Harry S, telah melahirkan kesadaran bagi negara berkembang dan negara maju untuk lebih fokus pada perencanan pembangunan jangka panjang (long terms). Kesadaran tersebut muncul setelah runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1980-an. Negara bagian Uni Soviet memilih untuk memisahkan diri atas pengaruh dari doktrin Presiden Harry S pada tahun 1949, yang menganggap bahwa demokrasi merupakan suatu konsep yang paling baik dalam melanjutkan pembangunan negara, khususnya dalam menciptakan stabilitas politik, ekonomi serta prosperity of society menuju upaya pembangunan usaha makro dan mikro.

Ritme penelitian mengenai pembangunan cenderung menganggap bahwa pembangunan tertujuh pada laju pertumbuhan ekonomi. Penekanan pada aktivitas ekonomi menjadi titik fokus dalam menciptakan output kekayaan negara melalui instrument perindustrian. Apalagi aktivitas ekonomi bertujuan untuk mencapai kemakmuran masyarakat di suatu negara. Bersumber pada keinginan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, Aidan Foster-Carter, 1989 memberikan 3 indikator pembangunan yaitu:

Pertama, bidang Sosial; merupakan aktivitas pembangunan yang dilakukan untuk mencapai pemenuhan kebutuhan manusia seperti makanan, perlindungan, pakaian, sistem kebersihan air, kesehatan, pendidikan serta pemenuhan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Kedua, bidang Politik; telah memperlihatkan pentingnya stabilitas politik dalam pembangunan ekonomi. Kendatipun, hakikat politik dalam konteks pembangunan tidak pernah stabil, apalagi politik menjadi indikator utama dalam sistem pemerintahan negara. Sehingga acapkali mengalami tafsiran yang berbeda dari pihak pemerintah maupun masyarakat. Tafsiran tersebut menghasilkan perbedaan konstruksi berfikir dalam memahami nilai pembangunan negara.

Ketiga, bidang Budaya; Pembangunan tidak hanya berkaitan pada perubahan corak aktivitas sosial, ekonomi dan politik, tapi juga fokus pada perubahan cara hidup masyarakat yang lebih baik. Banyak kalangan masyarakat internasional yang tidak mampu menerima getir arus perubahan globalisasi dalam kerangka pembangunan modern. Sehingga populisme politik kerakyatan bermunculan dengan tujuan untuk menumbangkan (kudeta) kepemimpinan negara dengan alasan bahwa konsep pembangunan yang semala ini diterapkan bertentangan dengan nilai budaya dan tradisi nasional mereka.

Fakta tersebut terjadi dalam domestik Iran pada tahun 1979, dengan sebutan revolusi Islam. Kudeta terhadap Shah Pahlavi dilakukan atas penolakan masyarakat terhadap konsep pembangunan yang dilakukan oleh Shah Pahlavi, dengan mengadopsi paham Westernisasi-Amerika Serikat.

Kemudian terdapat beberapa negara yang berupaya untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, namun harus hadapkan pada benturan budaya yang bersifat primordial dan paranoid. Mereka berusaha untuk bergerak maju dalam perbaikan ekonomi, tapi tidak melepaskan nilai budaya yang dimiliki. Hal demikian terjadi pada bangsa Jepang yang sukses dalam mempertahankan budaya di era post modern. Sehingga hasil keeping of cultures telah membentuk suatu identitas tersendiri bagi negara Jepang dan menjadikan Tokyo sebagai negara wisata-budaya sekaligus sebagai salah satu negara kekuatan ekonomi dunia.

Berkaca pada uraian di atas penulis, mengasumsikan bahwa upaya meningkatkan taraf hidup ummat manusia terletak pada konsep pembangunan suatu negara. Karena kepastian pembangunan akan menciptakan stabilitas pendapatan bagi masyarakat, terbukanya akses lapangan pekerjaan, kualitas pendidikan yang semakin baik, serta kesadaran dalam menjaga nilai kebudayaan dan moral kemanusiaan. Oleh sebab itu, seharusnya setiap pemimpin di dunia lebih fokus pada rancangan pembangunan yang seimbang, dengan tujuan untuk menciptakan stabilitas politik kenegaraan menujupencapaian masyarakat adil dan makmur. (*)

 

Author : rika

 

uum icon mygov msc mampu  myline tourism krste sirim

Logo Footer new januari 2017

IPDM